Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 November 2014

Akan Ada Hari

Akan ada hari, dimana aku dan kamu bukanlah dua orang. Melainkan satu merangkai hidup di dalam kisah berjudul ‘Kita’.

Akan ada hari, dimana aku menyiapkan sarapan untukmu dengan senang hati. Dan mengantarmu pergi hingga senja datang dan kau kembali.

Akan ada hari, dimana aku menunggumu di balik pintu. Menjaga hangat kopi, untuk diteguk setelah lelahmu.

Akan ada hari, dimana seluruh doa akan terucap dari bibirmu. Yang akan kuamini juga didalam hati.

Akan ada hari, dimana kamu akan berbaring tepat di sampingku. Membelai halus rambutku sembari bersenandung kecil menjemput lelap.

Akan ada hari, dimana kita akan menangis bahagia. Memandang sosok mungil, yang mewarisi sebagian parasmu, dan sebagian tingkahku.

Akan ada hari, dimana aku akan berlaku egois. Lalu kamu berpaling pergi, namun tersadar bahwa segalanya patut diperjuangkan.

Akan ada hari, dimana hitam berubah menjadi abu-abu. Muda menjadi tua, kecil menjadi besar, hari ini, esok, dan seterusnya menjadi kenangan.

Akan ada hari, dimana kita melihat nisan. Dan memesan sepetak lahan, berdampingan. Untuk nanti, ketika hari esok tak ada lagi.

Akan ada hari, entah kau, atau aku yang merana. Karena salah satu dari kita, akan pergi lebih dulu. Meninggalkan dunia, melepaskan fana, menjemput akhir kisah.


Entah kapan, tapi pasti hari itu akan datang, menutup buku kehidupan kita, dalam satu kata; ‘TAMAT’.

Jumat, 18 April 2014

Tempat Yang Terasingkan

Aku masih di sini. Di tempat terjauh dari hatimu. Tempat  menyimpan rindu – rindu yang tidak terungkapkan.
Aku masih di sini. Di tempat yang menampung luka – luka yang berserakan. Tempat jatuhnya ribuan tetes air mata.
Aku masih di sini. Di tempat yang bahkan engkau enggan untuk sekedar menoleh. Melihat semua penderitaan dan menyaksikan beribu kepiluan yang mendalam.

Aku masih di sini. Di tempat yang tak mungkin engkau temukan. Mengamati engkau dari kejauhan.
Aku masih di sini. Di tempat yang bahkan sebelah mata saja kau tak pandang. Memperhatikan tanpa ada yang terlewatkan.
Aku masih di sini. Di tempat yang hanya aku punya kuncinya. Merekam semua yang kau katakan.
Aku masih di sini. Di tempat dimana aku mencoba mengabadikan senyuman – senyuman. Mencoba menghapus peluh yang terkadang datang.

Aku masih disini. Mencoba berharap agar kau sadar, bahwa ada seorang yang selalu meninggikanmu dalam segala hal.

Aku masih di sini. Di tempat yang selalu kau abaikan. Di balik senyuman yang kutegar – tegarkan.
Aku masih di sini. Di tempat reruntuhan hati. Di balik air mata yang selalu kusembunyikan.
Aku masih di sini. Di tempat pusat titik kejenuhan. Di ujung pangkal kekecewaan.
Aku masih disini. Di dasar kubur air mata. Di antara puing – puing harapan.
  
Semoga ini bukanlah batas akhir dari penantian. Karena layaknya sebuah penantian tidak akan pernah berakhir.

Aku masih di sini. Di tempat bermimpi yang tak berkesudahan. Mencoba berlari tapi tetap bertahan. Mencoba melupakan namun kutahu tak semudah membalikkan telapak tangan.
Ah, semoga ini hanyalah sebuah mimpi yang panjang.

Kini biarkan aku terbangun dan jangan pernah paksa aku untuk sekedar menoleh tempat yang terasingkan.

Minggu, 09 Maret 2014

Kalau

Kamu paling suka bermain ‘Kalau’.

Gantungkan nasib pada hal lain agar kita sendiri tak terbebani, itu ide utamanya, bukan? Sudah banyak kalau-kalau yang keluar dari khayalmu. Kalau-kalau yang membuatku terkatung di ruang tanpa dasar.

Kalau lampu merah itu jadi hijau dalam 3 detik, aku akan jadi pacar kamu!
Kalau keretanya lewat dari kanan, kamu dan aku berjodoh!
Kalau kucing itu belok kanan, kita akan jadi teman seumur hidup!
Kalau koin ini menujukkan angka, maka kita…berjodoh.

Kamu dan kalaumu.
Aku dan pastiku.

Oke. Begini saja. Kalau kau menang suit dariku, kau ikut aku ke Bali.

Maka aku menang dengan tiga gunting berturut-turut. Maka kita terbang ke Denpasar. Maka kita basah di laut yang sama, tidur di angin yang sama, dan kenyang dengan roti yang sama.
Setiap kalau itu keluar dari mulutmu, jantungku melambat setengah ketukan. Nasibku digantung di tali itu. Tali kalau.

Kalau besok masih ada hari, kita akan bersama lagi!
Kalau aku tidur nanti, aku ingin mimpikan kamu!
Kalau tidak ada matahari, aku masih punya kamu untuk menyinari duniaku!

Kenapa kamu begitu tenggelam dalam laut kalau? Bukannya kalau telah membunuh perasaanmu sendiri? Kalau, kalau kalau, ka, lau, kal, au, kalau kalau kalau.
Kal.au, Gal.au.
AH! Tidak tidak.

Kita mendengar cerita bahwa Adam hidup bersama Hawa karena mereka berbagi tulang rusuk. Tuhan menciptakan mereka tanpa kalau.

Lalu kamu bilang,

Kalau Hawa tidak makan buah dari pohon itu apa yang akan terjadi?
Kalau Tuhan tidak menciptakan Hawa apa yang akan terjadi?

Ah, aku mana punya jawaban untuk itu.

Aku selalu hidup dengan kepastian dan keyakinanku.

Aku yakin akan dirimu, tapi mengapa kamu ragu?

Lalu kamu bertanya untuk terakhir kali,

Kalau Hawa tidak diciptakan dari tulang rusuk apa yang akan terjadi?

Lalu jawabku,

Aku yakin perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk yang dekat dengan hati agar disayang. Perempuan tidak diciptakan dari tulang kaki agar tidak diinjak injak.

Kamu memejamkan mata dan bilang,

Kalau aku pergi dan kembali lagi, maka sambutlah aku
Tetapi kalau aku tidak kembali, relakan saja.

Tidak!
Bagaimana kalau kamu tidak kembali?
Bagaimana kalau kamu hanya pergi begitu saja?

Ah, puas kah kau sekarang VIRUS KALAUMU SUDAH MULAI TERTANAM DAN BERKEMBANG dalam diriku!

Aku hanya ingin memusnahkan keraguan, aku hanya ingin kau dan aku memiliki asa dalam kepastian.

Selasa, 06 Agustus 2013

Rangkaian Tentang Kau


Kau, benang hidupku, kita sulam waktu bersama untuk jutaan windu

Kau, museum masa depan, ku tabung senyummu mulai dari sekarang

Kau, bilangan sempurna, akan ku hitung hingga ajal menjelma di hadapan kita

Kau, adalah tuturan doa, yang akan selalu kuaminkan

Kau, bagaikan rumah, tempat dimana aku menetap

Kau, gaungan suara, yang hanya terdengar dikepalaku

Kau, kertas putih kosong, akan ku tulis jutaan kisah kita diatasnya

Kau, tanah tempat berpijak, menopang tegapku memetik langit

Kau, sepasang sayap, membawa ku terbang menuju tak terbatas

Kau, api yang menghangatkan, mendekapku erat dalam dingin malam

Kau, adalah gravitasi, biar ragaku jatuh atas dirimu

Kau, rangkain bunga mawar, harummu semerbakkan hariku

Kau, adalah piano, yang memainkan lagu-lagu cinta

Kau, pelukis handal, sapukan warna merah jambu pada pipiku

Kau, hembusan angin, menyapu air mata yang turun

Kau, kumpulan rindu, rentang panjang yang tak ingin ku ukur

Kau, lentera cahaya, terangkan makna bahwa cinta sejati ada

Kau, jantung hatiku, denyut dan degupnya selalu terdengar saat bersamamu

Kau, seperti harmoni, music mengalun indah disetiap kecapmu

Kau, kumpulan album foto, yang menyimpan kenangan dalam gambar

Kau, adalah jawaban, yang akan kupilih sampai mati

Kau, kumpulan sajak, uraian kata yang tersimpan dalam ruang hati

Kau, sosok paling rasional, yang membuatku berpikir irasional


Tertanda,

Clara Eclesia Fides.

Sabtu, 06 Juli 2013

Tentang Cinta



Aku menyimpan hatiku sebelum menemuimu. Agar ketika melihatmu lagi, aku tidak mengingat masa lalu.

Aku mempersiapkan diriku sebelum menemuimu. Agar ketika melihatmu lagi, aku tidak terjatuh di ruang lalu.

Aku membenahi hatiku sebelum menemuimu. Agar ketika melihatmu lagi, aku tidak akan meragu.

Aku berkaca diri sebelum menemuimu. Agar ketika melihatmu lagi, aku tidak menangisi hari-hari dulu.

Mungkin suatu hari kalau kita bertemu lagi, kita akan saling bercerita betapa bahagianya kita dulu, dimana kamu selalu menjadi tujuan favorit bagi ingatanku. Dimana kamu menjadi tempatku menitipkan hati. Bagaimana kita menikmati perbincangan yang tak berujung dan tertawa lepas tanpa khawatir tentang perpisahan. Tapi sebuah cerita selalu punya akhir, bukan?

Aku tahu, kadang-kadang hidup itu tidak adil, menurut kita. Tapi Tuhan selalu punya rencana-Nya sendiri dan betapa Tuhan selalu bersikap adil kepada manusia.

Seharusnya, aku bisa menemanimu sekarang, menjaga bahagimu dan bahagiaku. Menerima bagian kesedihanmu untuk ku daur ulang menjadi hati yang baru.

Seharusnya kita bahagia, atau bisa dibilang, aku yang akan menjadi yang paling bahagia diantara kita berdua.

Tapi aku sudah menyiapkan hatiku untuk tidak lagi terjebak di relung waktu.

Aku pernah berencana mencintaimu dan menjaga bahagiamu. Tapi, menurut Tuhan aku lebih baik mencari jalan yang berbeda. Karena itulah Tuhan memutuskan untuk membagi kebahagiaan kita kepada orang lain secara adil dengan cara tidak menjadikan kita bersama.

Untuk saat ini mari hanya bertatap muka dan mengingat saja.  Kamu tidak perlu tahu kalau aku tetap berdoa untukmu, bukan?

Mungkin, hati kita diselimuti rindu tetapi kita tidak dapat melakukan apa-apa. Kita akan hanya saling memangdang dan berpelukan melalui tatapan. Merasakan perihnya pertanyaan yang seketika hadir, “kenapa kita tidak bersama?” 

Selasa, 07 Mei 2013

Peta


"Kalau aku tersesat, biarkan saja. Asal kau berjanji menjadi peta bagi ku." 

Begitu aku bilang padanya, dulu. Waktu itu dia tersenyum. 
Aku pernah berlari dan terjatuh. Hatiku pernah jatuh dan pecah, pernah jatuh dan tetap utuh. 
Jiwaku pernah terbang dan melayang, pernah mengawang dan terombang-ambing kedamaian. 
Degupku sering mendengar detakmu. Mereka berbicara dengan bahasa yang tak dipahami kepalaku. 
Rinduku pernah mengusap air matamu, memeluk kosong yang bertengger di detikmu. Hingga gema perpisahan meledak di telingaku. 
Dan ketidak kuasaan menyelimut kaki dan tanganku. "Kalau kamu tersesat, karena peta-mu hilang bagaimana?" Begitu tanyamu padaku hari itu. 
Ada janji yang teringkar, ada rasa yang terabai, ada air mata yg tertahan. 
Aku menatap langit. Mengawang, memikirkan pertanyaanmu. Lalu, ku jawab "Tuhan punya caranya sendiri. Kalau petanya hilang, biar saja entah bagaimana caranya Tuhan menunjukkan jalanku untuk pulang." Kamu diam, tidak membalas. 
Aku tersesat, karena petaku hilang. Tapi aku kembali pulang karena aku menemukan peta yang lain.
 Dia. Iya, dia petaku yang membawaku pulang. 
Terkadang kita harus sakit hati dulu baru memilih untuk move on. 
Ini bukan lagi tentang aku yang tersesat dan kamu sebagai petanya. 
Tapi ini tentang aku yang kembali pulang karena dia adalah petanya. Dia petaku.

Sabtu, 23 Maret 2013

Tenggelam

Aku suram.

Cermin mataku buram.

Bibir jiwaku bungkam.

Dalam diam, aku bergumam.

Ku titipkan pada angin sebuah salam.

"Tolong, kumpulkan ribuan malam. Hingga menjadi gelap yang terkelam."

Sepercik bayang senyumnya masih membuatku jatuh dalam jurang tercuram. Kenangan tentangnya masih memukul hatiku hingga biru lebam.

Wajahnya muram, raut halus menyelimuti malam, seakan ada rasa yang terpendam.

Jutaan cahaya berpualam.

Tak jua mengangkatku dari palung hatinya yang terdalam. Di dekatnya kurasa tentram.

Cinta itu kejam. Menatap dengan mata tajam. Menombak ke relung hati yang terpejam.

Duniaku kelam, mencari jawaban yang tertanam. Risau dalam diam, dan rindu bagaikan pisau yang menikam.

Karena cintaku

Tenggelam

Karam.

Kamis, 07 Maret 2013

My Feels.


A nostalgic day that’s what it is.

Literally and non-literally speaking we’re miles apart yet for some time today, i feel incredibly close to you. Memories sure does have that mystical powers to revive all the thoughts and feelings you’ve burried inside for so long.

What i think i miss is the thought of you waiting for me. But i’m flying too fast to let myself really miss the past. I don’t miss the past, i miss you.

You whisper and your voice gets soft and low and warm and i feel a pang of something deep in my chest because i like it, or i guess i used to like it because it was familiar and it was mine.

Talking about it doesn’t hurt, it just feels intense. But it’s still something that i think about and i wish you were here so i could know what you’re thinking, and also so i could hold you. I’m being too melancholic, sentimental, and lonely during this kind of time.

The thought of being with you is sort-of killing me. I have to turn the page back and forth, to make sure that the feelings i keep for so long are something worthy.

I tried hard explaining about what’s wrong and what’s happening but somehow it feels pointless because i can’t even put my finger to it.

I’ve been trying to cover up and conceal my feelings and pretending that i’m okay for sooo long. It comes to a point where i find myself breaking down in all of a sudden. I’ve been sinking for a long time, i just haven’t realized that i’m already at the bottom.

Sometimes things still doesn’t look real to me. How did we end up here? Where do we go from them?

But then it hits me, if we are able to continue loving properly. Even if the day that we must part comes. If there are days that i can think of you, i guess thats alright. And someday the meaning behind our separation will arrive. I’ll just keep off the radar for a while and take long walks around, in the middle of the night by myself. I think i’ll go stargazing on the roof and make up stories in my head.

Detik Yang Berlalu.


Setiap tempat yang kita pijak menjadi istana. 

Kamu, pangeran waktu dan detik bersamamu adalah singgasanaku. 

Kamu, ruang pelangi yang kuwarnai dalam setiap hembusan.

Kamu, puisi abadi yang kutemukan dalam setiap kedipan. 

Biar kamu mengalir, dan biar aku menjadi hilir.

Dulu, ku kira begitu.
Hingga aku tersadar bahwa aku terlalu sering bergelut untuk menciptakan bahagiaku sendiri. Seakan lupa bahagia itu sesungguhnya ada ketika kita membaginya atau melepaskannya untuk menemui kebahagiaan yang lain.

Kamu tahu apa yang paling mahal di dunia ini? Detik yang baru saja berlalu, karena kita tidak akan bisa membeli itu lagi.

Ada saat dimana kita tidak perlu menoleh ke belakang. Jangan melihat lagi segala sesuatu yang sudah kita tinggalkan. Aku percaya, itu akan meringankan langkah, untuk menjemput sesuatu yang baru. Sesuatu yang pada akhirnya membuat kita bersyukur karena menjemputnya dengan tangan yang sengaja dikosongkan.

Aku selalu berusaha untuk menghargai tiap detik yang pernah ku lewati bersamamu. Sesekali aku rindu tapi aku hanya ingin menemukan kebahagiaan yang lain. Aku melepaskan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik.

Sungguh itu tidak semudah bernafas. Aku berdiam terlalu lama untuk menahan diri tidak menoleh ke belakang. Saat aku berhenti, waktu tak ikut menemani, waktu tetap berjalan. Hidup itu pilihan. Pilihanku adalah; tertinggal jauh di masa lalu atau ku kejar waktu dengan harapan.

Kuputuskan untuk mengejar waktu, semoga tak tersandung lagi oleh segala tentangmu.

Semoga saja aku tidak berjalan mundur.

Sebuah Pelukan


Bel pulang sekolah sudah berbunyi 30 menit yang lalu, namun pak Pur urung menjemputku. Aku yang dari tadi menunggu mulai bosan dan berdalih menuju ke perpustakaan. Perpustakaan terletak disamping tangga sekolah lantai satu. Perpustakaan merupakan tempat yang nyaman, aku menyusuri rak buku sastra, sambil berjalan aku melihat Dimas di pojok ruang perpustakan, raut wajahnya tampak serius membaca buku yang ada di hadapannya. Dimas memang begitu, dia aneh. Suka menyendiri, dan tidak banyak bicara. Dulu saat kelas 10 aku pernah satu kelas dengannya dan dia memang irit bicara sekali, paling-paling hanya seperlunya. Misterius.
“Boleh duduk sini Dim?” tanyaku pada Dimas, berusaha ramah. Dimas mendongakkan kepalanya dan tersenyum tipis, yang aku anggap sebagai jawaban ‘Ya’. Tidak ada pembicaraan diantara kami berdua, Dimas sibuk dengan bukunya begitu pun aku yang juga asyik membaca, tiba-tiba handphoneku berdering. “Halo, iya pak tunggu bentar ya.” Aku mengambil tas ku dan bergegas untuk ke parkiran karena pak Pur sudah menjemput. “Dimas, aku duluan ya dim.” Ucapku sambil tersenyum. “Iya nes.” Jawab Dimas datar.

***

Pelajaran bu Puji berjalan sangat lama, aku yang sedari tadi mengantuk hanya bisa berpura-pura memperhatikan. Sampai akhirnya suara dari interkom mengagetkanku “Kepada seluruh siswa siswi kelas 10 sampai kelas 12, diberitahukan bahwa kalian dipulangkan setelah jam pelajaran ke-lima habis, karena bapak dan ibu guru ada rapat untuk try out. Terimakasih.” Aku menghela nafas lega, akhirnya pulang cepat. Seisi kelas pun mulai gaduh.
KRINGGGG. Bel pelajaran habis dan itu berarti bel pulang lebih awal. Hari ini aku merasa sangat lelah. Aku pun keluar kelas, dan menyusuri koridor sendirian. Namun tanpa disengaja aku melihat Dimas buru-buru keluar dari ruang kelas menuju parkiran. Aku yang melihat itu pun bergegas menuju parkiran, dengan rasa ingin tahu yang tinggi akan Dimas si misterius itu.
Aku yang tadinya ingin sampai rumah lebih awal mengurungkan niat ku itu. Aku memilih untuk mengikuti Dimas. Aku yakin sekali dibalik sikap misteriusnya itu ada sesuatu yang ia sembunyikan, entah apa itu.
Aku yang hari itu kebetulan membawa mobil mengikutinya dari belakang, ia menaiki sepeda motornya. Entah mengapa aku merasa ada suatu kesedihan yang Dimas pendam di lubuk hatinya. Setiap kali berbicara ada raut kesedihan dan juga kekhawatiran pada wajahnya.
Setelah 30 menit di perjalanan tiba-tiba Dimas berhenti di sebuah rumah sakit. Aku bertanya-tanya siapa yang sakit? Apa Dimas sakit? Aku langsung memarkirkan mobilku dan mengikuti Dimas dengan jarak yang cukup jauh agar tidak ketahuan. Iya menuju meja informasi lalu bergegas pergi. Aku pun mulai mengikutinya lagi dari belakang. Dimas sangat aneh, sangat misterius sekali.
Dia memasuki sebuah ruangan, setelah beberapa lama aku mulai mendekat ke ruangan tersebut. Aku mengintip sedikit dari sela-sela tirai yang menutupi jendela. Aku tercengang, disana ada seorang wanita berumur kurang lebih 40-an terbaring lemah. Dan disana untuk pertama kalinya aku melihat Dimas menangis. Jadi ini alasan dia menjadi seperti itu. Dimas, dibalik sikap misteriusnya dia menyimpan suatu kesedihan. Dugaanku selama ini ternyata benar.

***

Keesokan harinya sepulang sekolah aku memutuskan untuk ke perpustakaan dulu, berharap akan menemukan sosok Dimas disana. Aku masih penasaran soal kemarin, atas apa yang aku lihat di rumah sakit.
Aku melihat Dimas membaca buku masih di tempat yang sama. Aku duduk di kursi tepat di hadapannya. Situasinya sama seperti waktu itu, sepi.
“Dimas.” Aku memanggilnya pelan. Dia mengalihkan pandangannya kepadaku, buku yang tadi ia baca pun diletakkan diatas meja. “kenapa Ines?”  tanyanya. “Ah, enggak kok gak apa-apa.” Aku menjawab lalu detik berikutnya mengalihkan pandanganku pada buku yang di pegang Dimas. “Kamu suka dunia kedokteran?” tanyaku kepada Dimas setelah melihat bahwa buku yang dia baca terkait dengan dunia Dokter. “Iya, aku mau jadi dokter.” Jawab Dimas singkat.
“Emmm, kenapa mau jadi dokter?” tanyaku penasaran.
“Aku mau bantu orang untuk menyembuhkan penyakit mereka. Menyembuhkan penyakit yang belum ada obatnya. Dan aku mau menjadi orang yang dapat menemukan obatnya itu.” Aku tercengang itu pertama kalinya Dimas berbicara panjang lebar kepadaku, ditambah lagi ia menceritakan tentang mimpinya.
“Kamu hebat. Kamu pasti bisa jadi dokter hebat.” Ujarku sambil tersenyum lebar. Dan dibalas senyum manis Dimas. “oh iya Dim, aku ngeliat kamu di rumah sakit kemarin. kalau boleh tahu, apa cita-cita kamu itu ada hubungannya sama itu?” aku bertanya. Ah bodoh sekali aku menanyakan hal itu. Itu urusan pribadi Dimas. Dasar Ines bodoh.
Dimas terdiam atas pertanyaan yang aku berikan. Dia pun mengambil tasnya dan meninggalkanku di ruang perpustakaan. Dia marah. Aku tahu itu dari raut wajahnya. Sial aku salah bicara.

***

Sudah seminggu setelah kejadian di perpustakaan itu bersama Dimas. Setiap kali bertatap muka, Dimas tidak pernah membalas senyumanku, aku merasa sangat bersalah. Hari itu aku memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Aku hanya ingin mencari tahu, sebenarnya siapa wanita yang di rawat disana.
Sesampainya dirumah sakit aku langsung menuju meja informasi. “permisi suster, saya mau tanya pasien yang dirawat di ruang melati itu siapa ya suster?” tanyaku. “maaf ya dik, saya tidak bisa memberi tahu, itu bagian privacy pasien.” Kata suster itu. “tapi suster saya temen sekolahnya Dimas. Dimas Priambodo, cowok yang suka kesini itu.” Jawabku meyakinkan. “oh temannya Dimas, mau menjenguk ibunya Dimas?” tanya suster itu menyelidik. Aku kaget, jadi itu ibunya Dimas. “Ah iya suster. Kalau boleh tahu dia sakit apa suster?” “Ibu Neni sakit Alzheimer dik.” Jawab suster itu. Rahangku terasa jatuh.
Aku pernah dengar penyakit itu, namun tidak tahu pasti apa akibatnya. Aku merasa bersalah kepada Dimas. Besok aku harus menemuinya.

***

Jam istirahat aku langsung berlari menuju ruang kelas Dimas, namun ia tidak ada disana. Aku juga langsung berlari ke perpustakaan dan tidak ada Dimas juga. Dimas dimana kamu? Jam istirahat hampir habis aku berjalan lesu menuju kelas lalu tiba-tiba aku melihat Dimas keluar dari toilet cowok.
“Dimas!” panggil ku
“Ada apa lagi? Kamu tuh ya jadi orang pengen tau banget urusan orang lain. Sampe kerumah sakit segala.” Kata-kata Dimas terdengar sekali kecewa.
“iya Dim, aku minta maaf. Aku gak ada maksud apa-apa. Aku Cuma heran aja karena kamu tuh pendiem banget. Setiap aku ngomong sama kamu aku selalu liat raut sedih dan kecewa di wajah kamu.” Jawabku, berharap Dimas dapat mengerti tiap perkataanku.
“Kita omongin nanti lagi ya, saya mau masuk kelas. Kamu juga masuk kelas aja sana.” Jawab Dimas masih terdengar dingin namun sedih. Aku pun hanya terdiam dan kembali ke kelas.

***

Siang sepulang sekolah terasa panas. Aku berdiri di parkiran dekat motor Dimas. Aku masih ingin bicara pada Dimas. Aku masih merasa bersalah dan Dimas seperti belum bisa memaafkan ku.
Aku masih berkutat dengan pikiranku sampai suara berat Dimas mengagetkanku. “Ngapain kamu disini?” tanya Dimas. “Aku mau ngomong lagi sama kamu.” Jawabku, takut-takut Dimas merasa tersinggung lagi.
“Ayuk naik.”
“Hah?  Naik kemana?” tanyaku bingung dengan ajakan Dimas barusan.
“Ya, naik motor saya. Ikut saya ke rumah sakit.”
Aku langsung menganggukkan kepala dan memakai helm yang Dimas berikan kepada ku. Selama di perjalan kami berdua diam. Aku bingung mengapa Dimas mengajak aku ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit kami langsung menuju ruangan ibu Dimas.
Aku terdiam melihat keadaan ibu Dimas, dia terlihat lemah di ranjang rumah sakit. Dimas yang duduk di samping ibunya hanya bisa memandanginya dengan mata sendu. Aku merasa simpati sekali.
“Alzheimer. Belum ada obatnya. Dan keadaannya juga semakin memburuk. Dia kehilangan akal sehatnya. Dia gak bisa ngapa-ngapain lagi. Memorynya hilang, dia bahkan lupa nama saya. Entah bagaimana dia masih bisa bertahan selama setahun ini.” Dimas menjelaskan panjang lebar secara tiba-tiba.
“Dim, maafin aku. Aku turut prihatin sama kamu, sekali lagi aku minta maaf ya Dim.”
“Gak apa-apa kok nes. Aku juga salah. Aku terlalu menutup diri sama dunia luar. Kadang aku juga butuh teman cerita. Tapi aku gatau siapa.” Ucap Dimas.
“Kamu punya aku sekarang Dim, aku mau denger semua cerita kamu.” Aku mengucapkannya mantap dan dibalas dengan senyum oleh Dimas.
Sekarang Dimas tidak sendirian lagi.

***

Sudah sebulan, aku dan Dimas juga semakin dekat. 2 kali seminggu paling tidak aku ikut Dimas menjenguk ibunya. Kadang aku juga bertemu ayahnya dan kakaknya disana. Namun sebulan itu juga keadaan ibunya kian memburuk. Sikapnya tidak semisterius dulu namun dengan kondisi ibunya yang memburuk Dimas semakin terlihat murung.
“Ines, hari ini mau ikut saya ke rumah sakit?”
“Mau Dim! Hehe.” Aku balas menjawab sambil tertawa.
“Kamu udah makan nes?”
“Udah kok Dim tadi di kantin. Kamu?”
“Saya juga udah kok.”
Di motor Dimas kami mengobrol sambil tertawa. Aku senang melihat perubahan Dimas yang mau lebih terbuka terhadap orang lain.

***

Entah mengapa saat tiba di rumah sakit suasananya berubah menjadi tidak enak. Apakah ini hanya perasaanku saja atau memang ada sesuatu yang tidak mengenakan terjadi?
Feeling-ku tidak salah saat memasuki ruang ibu Dimas. Kain rumah sakit menutupi wajah ibunya, ayahnya dan kakaknya menangis di tepi ranjang. Tubuhku lemas seketika. Dimas yang ada di sampingku pun langsung memeluk jasad ibunya. Jadi ini akhirnya.

***

Di hari pemakaman aku hadir. Aku melihat Dimas disana, berdiri, ia tidak menangis. Aku tahu ia berusaha tegar. Aku menghampiriya dan menggandeng tangannya juga mengelusnya dengan ibu jari-ku.
“Sabar ya Dimas. Tuhan punya caranya sendiri untuk menyadarkan kita bahwa ada dimana saatnya kita kehilangan.” Aku berkata sambil menenangkan Dimas.
Dimas berbalik menatapku sambil berkata “saya tahu. Dan Tuhan mengirimkan kamu untuk saya, agar saya tahu bahwa semuanya akan baik-baik saja.” Aku tersenyum mendengar ucapan Dimas, terdengar sangat tulus.
“Kamu pasti akan jadi dokter yang hebat Dim nantinya. Kamu bisa menemukan obat yang dapat menyembuhkan penyakit langka. Kamu bisa membantu mereka yang membutuhkan.”
“Terimakasih ya Ines. Terimakasih banyak.” Dimas tersenyum tulus. Tidak ada lagi raut murung di wajahnya.
Aku pun langsung merengkuh Dimas dengan tangan kecil ku.
“Aku tidak tahu bagaimana cara kerjanya dalam memberikan pelukan yang baik, tapi aku tahu kadang di saat seperti ini yang dibutuhkan seseorang bukan lagi kata-kata yang menenangkan, tapi sebuah pelukan yang mampu menenangkan.”